Akhirnya Kabinet Indonesia Bersatu II dilantik oleh SBY. Saat pelantikan terjadi beberapa kontroversi seperti tudingan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari terang-terangan mengungkapkan perilaku Endang Rahayu Sedyaningsih. Siti meragukan nasionalisme Endang karena pernah secara diam-diam membawa virus H5N1 ke luar negeri. Padahal Indonesia sudah memperjuangkan soal virus sharing dan disetujui dalam sidang WHO.
Akibat perilakunya itu, Siti kemudian memutasi Endang dan menurunkan jabatannya menjadi peneliti biasa. Soal ini Endang membantahnya.
Selain itu juga terjadi kontroversi kenaikan gaji menteri di masyarakat.
Kabinet Indonesia Bersatu II (Inggris: Second United Indonesia Cabinet) adalah kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan partai politik pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan kursi di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar yang bergabung setelahnya[1], tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009, serta kalangan profesional.
Susunan
Berikut adalah susunan Kabinet Indonesia Bersatu II yang diumumkan oleh Presiden SBY pada 21 Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya.[2][3][4][5]
Menteri koordinator
| No. | Kementerian | Jabatan | Pejabat | Latar belakang |
|---|---|---|---|---|
| 1 | ![]() Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan |
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan | Djoko Suyanto |
Militer, mantan Panglima TNI, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono |
| 2 | Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian | Hatta Rajasa |
Sipil, Mensesneg, Ketua Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono, diusulkan oleh PAN |
| 3 | Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat | Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat | Agung Laksono |
Sipil, mantan Ketua DPR, diusulkan oleh Golkar |
| 4 | Menteri Sekretaris Negara | Sudi Silalahi |
Militer, Seskab, Tim Sukses SBY-Boediono |
Menteri departemen
[sunting] Menteri negara
Pejabat setingkat menteri
| Lembaga | Jabatan | Pejabat | Latar belakang |
|---|---|---|---|
| Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan | Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan | Kuntoro Mangkusubroto[6] |
Sipil, mantan Kepala BRR Aceh-Nias |
Badan Intelijen Negara |
Kepala Badan Intelijen Negara | Sutanto[7] |
Polisi, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), mantan Kepala Polri, Tim Sukses SBY-Boediono |
Badan Koordinasi Penanaman Modal |
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal | Gita Wirjawan |
Sipil, Komisaris PT Pertamina (Persero) |
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Indonesia_Bersatu_II
Video Pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu II oleh SBY:
http://www.youtube.com/watch?v=uVd3Av6UX-U
Inilah Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II
DHONI SETIAWAN
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Boediono mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).
Rabu, 21 Oktober 2009 | 22:18 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengumumkan susunan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10) pukul 22.00. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang akan menjabat pada periode tahun 2009-2014.
1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Segaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Pejabat Negara:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/21/22185589/Inilah.Susunan.Kabinet.Indonesia.Bersatu.II
Kamis, 22/10/2009 08:50 WIB
Ganti Siti Fadilah & Pakai Endang, SBY Tunduk Pada AS
Shohib Masykur – detikNews
Presiden SBY Umumkan Kabinet
Jakarta – Presiden SBY memilih Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan menggantikan Siti Fadilah Supari. Dengan ini SBY dinilai tunduk pada kepentingan AS karena Endang merupakan orang paling dekat dengan Namru-2 milik AS.
“Ini kabinet neoliberal yang cenderung tunduk pada kepentingan Amerika. Ibu Siti ditendang. Padahal dia berhasil karena bisa melawan negara besar seperti Amerika dan WHO,” kata pengamat politik LIPI Syamsudin Haris pada detikcom, Kamis (22/10/2009).
Syamsudin menyayangkan SBY yang tidak lagi memakai Siti yang dia nilai telah berhasil. “Sayangnya SBY nggak pakai lagi. Mungkin karena SBY terlalu tunduk pada Amerika dan WHO,” kata Syamsudin.
Selain itu dia juga menganggap audisi menteri yang dilakukan SBY sebenarnya tidak perlu. Sebab calon yang diaudisi hanya 1 untuk tiap pos kementerian, kecuali untuk jabatan Menkes. Jika berniat audisi, seharusnya 1 pos kementerian minimal 2 orang.
“Kasihan juga dengan Ibu Nila, dia satu-satunya yang gagal. Padahal sudah ada karangan bunga dan ucapan selamat segala macam,” kata ucap Syamsudin.
Dia menilai, sebagai seorang presiden yang menang dengan perolehan suara tinggi, SBY terlalu tidak bernyali. SBY tidak berinisiatif membangun kabinet profesional yang diisi dengan orang-orang yang kompeten di bidangnya. “Padahal dia memiliki mandat yang jauh lebih kuat,” kata Syamsudin.
(sho/nrl)
Kabinet Indonesia Bersatu II
“Sulit Buktikan Kalau Saya Jual Virus”
Siti meragukan nasionalisme Endang karena pernah secara diam-diam membawa virus H5N1.
Kamis, 22 Oktober 2009, 09:24 WIB
Umi Kalsum, Sandy Adam Mahaputra
Endang Rahayu Sedyaningsih disalami SBY usai diaudisi jadi Menteri Kesehatan (Rumgapres/ Anung)
VIVAnews – Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari terang-terangan mengungkapkan perilaku Endang Rahayu Sedyaningsih. Siti meragukan nasionalisme Endang karena pernah secara diam-diam membawa virus H5N1 ke luar negeri. Padahal Indonesia sudah memperjuangkan soal virus sharing dan disetujui dalam sidang WHO.
Akibat perilakunya itu, Siti kemudian memutasi Endang dan menurunkan jabatannya menjadi peneliti biasa. Soal ini Endang membantahnya.
“Tidak benar. Memang sulit membuktikan kita benar. Kalau waktu itu saya dimutasi, saya terima. Kalau saya dimutasi ya saya ikuti, tidak masalah,” kata Endang di rumahnya, Kompleks IKIP, Duren Tiga, Jakarta, Kamis 22 Oktober 2009.
Suami Endang, MJN Mamahit, juga mengaku sering mendengar selentingan itu di tempat kerjanya. Mamahit yang juga dokter di RS Tangerang mengabaikan suara-suara sumbang itu. “Saya biasa saja, itu tidak masalah tidak benar,” kata dia.
Soal kedekatannya dengan Namru-2, laboratorium milik Angkatan Laut AS, Endang mengakui dia memang memiliki kedekatan, tapi tidak hanya dengan peneliti-peneliti Amerika Serikat saja. “Juga dengan teman-teman Jepang, Belanda. Saya tidak mengelak kalau dikatakan dekat dengan Namru. Kalau saya dekat dengan Ibu (Siti Fadilah), nanti dikira sombong,” katanya.
Soal pesan Siti agar rasa nasionalismenya ditingkatkan, Endang hanya menjawab singkat. “Ya aminlah,” kata dia.
http://politik.vivanews.com/news/read/99050-_sulit_buktikan_kalau_saya_tak_jual_virus_
Siti Fadilah: Endang Larikan Virus ke LN
Written by anton
Kamis, 22 Oktober 2009
JAKARTA, TRIBUN – Penunjukan Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri kesehatan cukup menimbulkan pertanyaan. Karirnya di depkes sempat tersandung karena Endang pernah dimutasi oleh Siti Fadilah Supari.
“Dia pernah saya mutasi karena dokter Endang membawa virus yang dilarang ke luar negeri. Dia membawa virus tanpa setahu kita. Itu ada sekitar 58 virus ke Hanoi tanpa setahu siapapun juga,” kata mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10).
Siti Fadilah menuturkan, kala itu Endang beralasan membawa virus untuk diteliti karena ada profesor kenalannya yang datang ke Hanoi. Namun tetap saja hal itu tidak bisa dibenarkan. “Tapi untuk saya membawa virus keluar tanpa sepengetahuan saya adalah pelanggaran,” tegasnya.
Siti Fadilah mengatakan kini sudah tidak mempermasalahkan kasus ‘penyelundupan’ tersebut karena Endang sudah meminta maaf. Tapi gara-gara insiden ini Endang dilarang mengurusi virus lagi.
Ke depannya, Siti Fadilah berharap ucapan Endang kepadanya bahwa dirinya seorang nasionalis bukan isapan jempol belaka. Soal kemampuan, Siti Fadilah yakin Endang punya kemampuan untuk memimpin sebuah departemen dengan sedikit catatan soal virus.
“Saya optimis dia bisa melaksanakan tugas sebagai menkes karena kemampuan identifikasi masalah, menganalisa suatu kesimpulan, merencanakan tindakan dia itu mumpuni,” jelasnya.
“Yang harus saya kawal adalah policy dia terhadap H5N1 dan juga virus-virus yang lain. Kerjasama Indonesia-Amerika yang sudah saya rintis,” lanjutnya.
Menurut mantan Menkes Siti Fadilah Supari, Endang merupakan orang yang paling dekat dengan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2). “Endang adalah staf saya di bagian Litbang. Dia adalah mantan pegawai Namru-2. Dia orang yang paling dekat dengan Namru,” katanya.
Keberadaan Namru-2 sempat menjadi kontroversi. Namru-2 pertama kali berada di Indonesia pada tahun 1970 untuk meneliti virus-virus penyakit menular bagi kepentingan Angkatan Laut AS dan Departemen Pertahanan AS. Kontrak Namru-2, unit riset virus milik Angkatan Laut AS, dengan RI sudah habis sejak Januari 2000.
Namun pada praktiknya masih berlangsung kegiatan penelitian hingga 2005. Kemudian Menkes Siti Fadilah Supari langsung menghentikannya. Dia melarang seluruh rumah sakit mengirimkan sampel ke Namru-2 untuk diteliti. Banyak pihak mencurigai keberadaan Namru menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset.
Setahun setelah Menjadi Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari meminta agar izin Namru 2 ditutup. Barulah diakhir masa jabatannya, ,tepatnya 16 Oktober 2009, Siti Fadilah mengirimkan surat pemberhentian kerjasama Depkes dengan Namru- 2.
http://tribunbatam.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=36178&Itemid=1096
Rencana Kenaikan Gaji Pejabat
Gaji Pokok Menteri Rp 18 Juta, Tetapi …
Setiap menteri menerima mobil dinas baru, dana taktis Rp 150 juta, pensiun, rumah dinas.
Selasa, 27 Oktober 2009, 15:07 WIB
Heri Susanto
VIVAnews – Rencana kenaikan gaji pejabat negara menuai polemik berkepanjangan. Apalagi, pemerintah sudah mengalokasikan dana di APBN 2010 untuk menampung rencana kenaikan gaji pejabat negara tersebut.
Anggota Komisi Keuangan DPR, Harry Azhar Azis mengungkapkan pemerintah memang pernah membahas bersama Panitia Anggaran DPR terkait rencana remunerasi gaji pejabat negara. “Itu sudah dialokasikan di anggaran 2010.”
Dia mengakui gaji pokok pejabat negara, seperti Menteri saat ini memang sekitar Rp 18 juta. Tetapi, jika ditambah dengan berbagai tunjangan yang diperoleh, take home pay mereka bisa Rp 50-60 juta per bulan. “Itu belum termasuk dana operasional menteri per bulan yang besarnya mencapai Rp 150 juta.”
Sekretaris Jenderal Forum untuk Transparansi Anggaran Indonesia (FITRA), Yuna Farhan mengingatkan sesungguhnya para menteri bukan hanya menerima gaji pokok, tetapi mereka telah menerima berbagai fasilitas yang ditanggung negara.
Seluruh fasilitas adalah mobil dinas baru seharga 350 juta, dana taktis operasional 150 juta per orang, rumah dinas beserta operasionalnya, dana pensiun, dan fasilitas VVIP. “Itu sudah lebih dari cukup bagi para menteri,” kata Yuna dalam siaran pers yang diterima VIVAnews di Jakarta, 26 Oktober 2009.
Yuna menekankan jabatan menteri sesungguhnya bukan tempat menampung para job seeker. Alasan gaji yang lebih kecil dari Direktur BUMN, juga tidak bisa diterima. Sebab, Direktur BUMN adalah jabatan professional yang harus berkonstribusi pada pendapatan Negara, sementara Menteri adalah jabatan politik yang berorientasi pada pengabdian melayani rakyat.
“Jadi, jabatan menteri bukan tempat mencari uang.”
http://bisnis.vivanews.com/news/read/100358-gaji_pokok_menteri_sih_rp_18_juta__tetapi____









