Sutiyoso – Terbakarnya Pasar Tanah Abang dan Aldiron Plaza

Kebetulan atau tidak, pada era pemerintahan Gubernur Sutiyoso beberapa pasar besar yang akan direnovasi seperti Pasar Tanah Abang dan Aldiron Plaza terbakar. Kemudian ada pengembang baru yang merenovasi pasar dengan harga yang tinggi hingga rp 300 juta per meter atau 1 kios bisa mencapai Rp 1 milyar!

Milyaran rupiah kerugian yang diderita pedagang pasar karena barang dagangan dan kiosnya terbakar serta tidak dapat berdagang lagi. Padahal penjualan Pasar Tanah Abang bisa mencapai Rp 15 trilyun per tahun.

Kita berharap pemimpin kita bisa mencegah kebakaran yang menghanguskan seluruh pasar dan memiskinkan para pedagang.

Kompas, Kamis, 19 Februari 2004

Setahun Pascakebakaran Pedagang Tanah Abang Jadi “Mainan”

TEPAT hari ini, Kamis (19/2), setahun lalu kebakaran hebat meluluhlantakkan ratusan kios di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ada kesengajaan atau murni bencana? Pertanyaan itulah yang sampai saat ini tak terjawab. Bahkan, polisi sepertinya angkat tangan dalam mengusut kasus berskala nasional itu.

DI tengah ketidakpastian tentang nasib para pedagang korban kebakaran tentang kepemilikan kiosnya pascarenovasi nanti, sebuah petaka kembali menimpa. Hari Sabtu lalu bangunan Blok A pasar grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu runtuh.

Kali ini memang tak ada korban jiwa, tapi belasan orang luka-luka. Bukan pedagang, tetapi para pekerja bangunan yang sedang membongkar gedung yang akan direnovasi itu.

Sama seperti halnya ketika si jago merah melumat pasar tersebut, runtuhnya bangunan yang dulu terbakar itu juga dipastikan akan gelap apa penyebabnya.

Tentu saja, nasib dari ratusan pedagang korban kebakaran itu tak sepenuhnya gelap-atau sekelabu-itu. Sebagian dari mereka tetap moncer meski harus menyewa kios atau berdagang di mobil-mobil di sekitar kawasan pasar.

Bisa dimaklumi, nama Tanah Abang sebagai kawasan bisnis sudah begitu populer. Ibaratnya, dari Tanah Abang-lah para pedagang tekstil dan garmen Jakarta ini bermula.

Tak heran kalau kebakaran di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu sempat melumpuhkan kegiatan ekonomi dari kota hingga desa-desa di Indonesia. Saat itu, produsen atau perajin konfeksi di sejumlah daerah ikut menangis dan gelisah. Bukan hanya itu, 1,3 juta orang diperkirakan kehilangan lapangan pekerjaan.

Mereka, antara lain, pedagang, buruh pikul, karyawan toko, dan penjahit di perusahaan konfeksi. Bahkan, pengusaha angkut barang beserta karyawannya sangat merasakan dampaknya.

Termasuk di dalamnya adalah mata rantai atau jaringan perdagangan tekstil di pelosok-pelosok Tanah Air. Entah mereka pemasok atau pedagang yang menjual kembali tekstil dari Tanah Abang di kampungnya.

Setahun pascakebakaran, para pedagang tengah menunggu penyelesaian pembangunan kembali Pasar Tanah Abang yang diperkirakan akan selesai pertengahan 2005. Namun, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan ambruknya bangunan yang dulu terbakar.

Pertanda apakah ini? Tak ada pedagang yang bisa menjawabnya. Yang jelas, belasan orang kembali harus terluka.

Inikah harga yang harus dibayar dari sebuah proyek besar bernilai Rp 700 miliar yang dibuat PD Pasar Jaya dengan menggaet pihak investor lokal?

Ataukah, sebetulnya masih ada korban lagi yang akan mengalami getah pahit dari rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas pembangunan pasar itu?

Sejak awal Ramadhan atau November 2003, kasak-kusuk ribuan pemilik kios korban kebakaran memang mulai merebak. Mereka resah karena janji Gubernur Sutiyoso tidak seindah “warna” aslinya.

Kalau diingat-ingat, waktu itu Sutiyoso menjanjikan bahwa pasar tersebut akan segera dibangun supaya pedagang bisa secepatnya berdagang kembali. Ternyata, yang dimaksud dengan segera itu butuh waktu satu tahun. Itu pun baru mulai.

Kini, setelah setahun, aneka peralatan berat mulai dioperasikan, dan truk-truk pengangkut bahan baku bangunan mulai lalu lalang. Tanah mulai diratakan, tiang-tiang fondasi baru mulai dicanangkan.

Janji sang gubernur tidak hanya berhenti di situ. Di depan korban kebakaran, Sutiyoso berjanji tidak akan merugikan korban kebakaran sepeser pun. Pemilik kios akan dapat memperoleh kembali kios-kios yang terbakar itu sesuai haknya. Benarkah?

PASAR tradisional yang berdiri sejak tahun 1735 itu akan dibangun menjadi pasar modern dengan 18 lantai. Direktur Perusahaan Daerah Pasar Jaya Prabowo Soenirman menyatakan, dirinya memiliki obsesi untuk mengubah pasar tradisional menjadi pasar modern.

Di tangan Prabowo, pasar tradisional yang kerap diidentikkan dengan kekumuhan, kotor, tak terawat, dan biang kemacetan lalu lintas itu akan diubah menjadi pasar modern yang bersih dan tertata rapi.

Ketika pemancangan tiang pertama pembangunan kembali Pasar Tanah Abang pada pertengahan Desember 2003, maket gedung pasar itu terlihat begitu megah. Pembangunan pasar itu disebut-sebut untuk mengimbangi kompetisi yang berlangsung di dunia properti.

Bagaimana dengan harga kios? Apakah harganya akan terjangkau?

“Soal terjangkau atau tidak, itu sih sangat relatif,” ujar Nurman Adhi, Asisten Manajer Divisi Hubungan Masyarakat PD Pasar Jaya.

Yang jelas, korban kebakaran akan diprioritaskan untuk memperoleh kios. Harga kios untuk korban kebakaran sebesar Rp 20 juta per meter persegi. Kios itu akan dibangun masing-masing 2 x 2 meter sebanyak 8.224 unit.

“Kalau dulunya memiliki empat kios, pengambilan kios kedua, ketiga, dan keempat akan dikenai harga progresif sekitar Rp 75 juta per meter persegi,” jelas Adhi.

Hanya saja, kata Adhi, korban kebakaran itu diprioritaskan mengambil lokasi kios di lantai dasar satu dan dua (basement), serta lantai 1-7. Untuk lantai semi dasar, lower ground, dan ground akan dipasarkan dengan harga komersial Rp 200 juta-Rp 300 juta per meter persegi. Berarti, harga kios komersial bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar!

Luar biasa. Sebab, harga kios di Wholesale Trade Centre (WTC) Mangga Dua yang diprediksi akan menggeser pusat perdagangan elektronik Glodok hanya berkisar Rp 45 juta hingga Rp 90 juta per meter persegi.

“Harga komersial dan cara pembayarannya masih diperhitungkan oleh PD Pasar Jaya. Kami mempertimbangkan harga-harga kios yang dibangun di sekitar Tanah Abang, seperti Metro Tanah Abang dan Jembatan Niaga. Yang jelas, sistem penggunaan kiosnya hanya hak guna pakai,” ujar Adhi.

Tentu saja rencana penempatan kios untuk pedagang korban kebakaran-yang katanya diprioritaskan itu-membuat mereka kecewa. Sebab, menurut Ketua Umum Badan Koordinasi Organisasi Pedagang Tanah Abang Ismet Roza, korban kebakaran yang tadinya menempati lantai dasar, 1, 2 dan 3 akan ditempatkan di lantai yang sangat tidak strategis.

Menurut hitungan para pedagang, pembangunan pasar itu akan menelan biaya Rp 700 miliar. Dari jumlah itu, PD Pasar Jaya akan mendapat kompensasi Rp 150 miliar ditambah pembebasan lahan Rp 4 miliar.

Dengan asumsi kios yang terjual sebanyak 80 persen, pihak pengembang akan mengantongi hasil penjualan kurang lebih dari Rp 2,3 triliun dan ditambah dari hasil tebusan pedagang korban kebakaran untuk kios pertama sebesar Rp 544 miliar.

Selanjutnya, jika dikurangi biaya pembangunan sebesar Rp 700 miliar, berarti masih ada keuntungan sebesar Rp 2,144 triliun. “Karena itu, benarkah PD Pasar Jaya hanya menerima Rp 150 miliar? Seberapa besarkah keuntungan pengembang tersebut yang akan disumbangkan ke APBD DKI Jakarta?” kata Ismet.

Sejumlah pedagang juga mempertanyakan, pantaskah mereka menjadi tanggungan untuk mengeruk keuntungan atau mencari dana bagi lembaga atau kelompok tertentu.

Terlepas dari segala perhitungan akal-akalan pengembang dan PD Pasar Jaya, sesepuh Pasar Tanah Abang, Lim Kiat Swie, mengatakan, harga kios memang sudah “gila-gilaan” mahalnya.

“Jika PD Pasar Jaya hanya memikirkan keuntungan, tanpa mau sedikit memperhatikan permintaan pedagang, keberadaan pasar itu akan berantakan,” ujar Lim.

Para pedagang ini memang pernah terpuruk. Namun, kata Lim, sisa-sisa tenaga dan pikiran terus digunakan untuk bangkit berusaha.

“Memang ada pedagang yang panik lalu cepat-cepat memesan kios. Tapi ada juga pedagang yang bersikap wait and see,” ujar Lim, yang kerap memasok tekstil dari berbagai daerah dalam jumlah besar itu.

Ia menuturkan, Pasar Tanah Abang akan bertahan jika pasar itu bisa secepatnya dibangun kembali. Pedagang lama janganlah disingkirkan dan dibiarkan masuknya pedagang-pedagang baru sebagai kompetitor baru. (OSA TRIYATNA/ PINGKAN ELITA DUNDU)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0402/19/metro/866281.htm

===

Sutiyoso Bantah Kebakaran Terkait Rencana Renovasi

Senin, 29 Agustus 2005 | 12:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menegaskan tidak ada kaitan antara kebakaran di Aldiron Plaza Blok M, Jakarta Selatan, pagi tadi dengan rencana renovasi pertokoan itu oleh PD Pasar Jaya.

“Tidak ada hubungannya. Ngapain ngebakar-bakar kayak gitu, saya saja baru tahu sekarang, nanti kami teliti sebab-sebab kebakaran itu,” ujarnya di Balaikota, Senin (29/8).

Disinggung mengenai adanya pola yang sama antara rencana renovasi yang diikuti peristiwa kebakaran, Sutiyoso menegaskan bahwa ia tidak memerintahkan anak buahnya untuk membakar. “Tidak masuk akal. Karena tidak ada perintah dari kami (untuk membakar), masa anak buah mau sembarangan,” bantahnya.

http://www.tempointeraktif.com/hg/jakarta/2005/08/29/brk,20050829-65861,id.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: