Fadjroel Rachman: Ketiga capres 2009 agen neoliberalisme

M Fadjroel RachmanBerikut satu opini yang ekstrim dari Fadjroel Rachman yang merupakan Capres Indonesia 2009  dari Independen yang gagal melaju ke Pilpres.

Tulisannya mungkin akan membuat panas para pendukung semua Capres, namun berbagai kritik dan angka yang dilontarkannya cukup menarik untuk dipelajari.

Ketiga capres 2009 agen neoliberalisme

SATRIADI TANJUNG

WASPADA ONLINE, Sunday, 17 May 2009 20:41 WIB

JAKARTA – Ketiga pasangan capres dan cawapres yang maju dalam pilpres mendatang, menurut Fadjroel Rachman, merupakan agen neoliberalisme karena semuanya pernah menjual BUMN, minyak dan gas serta berutang kepada luar negeri.

“Semuanya itu agen neoliberalisme,” katanya saat dihubungi Waspada Online, malam ini. Diterangkan, dalam kebijakan ekonomi, ketiga pasangan capres-cawapres meneruskan kebijakan pembangunanisme Orde Baru (neoorba) serta neoliberalisme yang melahirkan kemiskinan, ketimpangan sosial dan ketergantungan hutang massif.

SBY, JK dan Megawati, kata Fajdroel, menjual blok minyak dan gas, menjual BUMN dan berutang massif. Megawati membuat kontrak blok gas Tangguh, yang berpotensial merugikan negara Rp750 triliun (25 tahun), menjual murah Indosat sekitar Rp5,26 triliun kepada Temasek Holding, dijual lagi kepada Qtel (Qatar) senilai Rp1,8 milyar dollar AS dan penguasaan Indosat oleh Qtel diizinkan oleh SBY-JK hingga 65 persen.

SBY-JK juga, tambah Ketua Pedoman Indonesia itu, menjual BUMN seperti, PT Garuda Indonesia, PT Karakatau Steel, PT Bank Tabungan Negara, PT Yogya Karya dan PTPN III, IV dan VIII. Bahkan, SBY-JK selama 26 Mei 2008-5 Mei 2009 menjual 59 blok migas, akibatnya dari total produksi minyak Indonesia (September 2008) sebesar 850.982 barel per hari, Chevron Pacific Indonesia menguasai 425.478 barel per hari, sedangkan Pertamina hanya 108.233 barel per hari.

Parahnya lagi, lanjut Fadjroel, pinjaman luar negeri (PLN) dan surat berharga negara (SBN) hingga 31 Januari 2009, total utang pemerintah adalah Rp1.667 triliun pada masa Megawati dan SBY-JK. Selama tahun 2001-2009 PLN bertambah, masing-masing, bertambah 602 (2001), 594 (2002), 591 (2003), 613 (2004), 612 (2005), 562 (2006), 586 (2007), 717 (2008) dan 746 (2009).

Sedangkan SBN, urai Fadjroel, bertambah 661 (2001), 655 (2002) 649 (2003), 662 (2004), 656 (2005), 748 (2006), 801 (2007), 906 (2008) dan 920 (2009). “Jadi total utang pemerintah (PLN dan SBN) masing-masing, 1.263 (2001), 1.249) (2002), 1.240 (2003), 1.275 (2004), 1.268 (2005), 1.310 (2006), 1.387 (2007), 1.623 (2008) dan 1.667),” katanya.

Utang dan SBN senilai Rp1.263 triliun (2001), sebut Fadjroel, adalah hutang haram Orba dan KLBI senilai Rp144 triliun dan BLBI senilai Rp600 triliun lebih (Boediono salah satu Direktur BI) serta sejumlah proyek yang merugikan masyarakat seperti Bendungan Kedung Ombo. “Megawati, SBY, JK tak berniat menghapuskan utang haram dan menuntaskan KLBI/BLBI,” ujarnya.

Disinggung Prabowo Subianto sebagai cawapres Megawati, Fadjroel menyebutkan, sama saja karena Prabowo merupakan kapitalis, karena dia adalah seorang pengusaha. Kalau memang mau mensejahterakan petani, Prabowo lebih baik menyumbangkan hartanya kepada rakyat. “Tidak ada yang memperjuangkan rakyat, tetapi hanya untuk kepentingan sendiri,” pungkasnya.

8 Tanggapan

  1. Wah..semuanya kena….

  2. Tong kosong nyaring bunyinya …

  3. Fadjroel Rachman ini mengingatkan saya pada Sri Bintang Pamungkas.
    Kedua-duanya sama-sama vokal, pernah dipenjara, dan ingin jadi presiden.
    Sri Bintang gagal jadi presiden. Kemungkinan Fadjroel juga karena umumnya rakyat Indonesia kurang suka dengan tokoh yang kelewat vokal.

  4. liberal ataupun neo liberal memang harus ada di Indonesia,
    karena dengan adanya neo liberal akan membantu masyarakat Indonesia untuk dapat terlepas dari kemalasan (subsidi dan BLT) dan bekerja keras dan tidak mengandalkan pemerintah terus (rakyat seperti pengemis)…

  5. Neoliberalis telah membangkrutkan banyak negara2 di dunia seperti AS dan Indonesia. Untuk apa dipelihara? Hanya menyengsarakan rakyat dan menguntungkan segelintir pengusaha terutama pengusaha asing.

    Rakyat tidak malas. Mereka justru ingin berusaha namun pemerintah tidak memberi modal misalnya tanah atau lahan untuk berjualan.

    Sebagai contoh banyak pedagang kaki lima yang berjualan. Bukannya memberi tempat yang layak, pemerintah justru menguber mereka dengan satpol PP dan merampas dagangan dan gerobak mereka. Terakhir di Surabaya seorang Balita tewas dalam razia kaki lima yang dilakukan satpol PP.

    Banyak orang ingin bertani. Namun mayoritas lahannya kurang dari 0,4 hektar bahkan ada yang tak punya tanah sekali. Terkadang terjadi perebutan tanah sehingga menewaskan rakyat seperti di Alas Tlogo. Atau korban lumpur Porong yang sawahnya hancur terendam lumpur namun tidak diganti sama sekali oleh pemerintah.

    Ciri2 kaum Neoliberalis adalah serakah dan menuduh rakyat sebagai malas, dsb. Padahal mereka justru telah merampas modal rakyat untuk berusaha dari kekayaan alam seperti migas, emas, perak, dan batu bara. HIngga 69,4 juta hektar tanah dikuasai hanya 652 pengusaha saja. Harusnya pemerintah bertindak adil dengan memberikan tanah pada petani yang kekurangan lahan atau tak punya tanah sama sekali.

    http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia/

  6. lumayan oke.
    sajian faktanya pada umumnya benar.
    masalahnya, para birokrat itu bakalan bilang…
    tujuan baik, prosedurnya benar, hasil… kuasa Yang Diatas.
    (=yang penting kami digaji dan tambah kaya)
    kritik dan komen sudah banyak.
    kapan kita melakukan gerakan yang lebih konkret???

  7. yang penting perlihatkan bahwa diri sendiri bisa berbuat baik minimal buat keluarganya dengan cara-cara yang halal, lalu buat warga sekitar, baru mikir buat negara dan bangsa…

  8. saya tdk baca semua tulisan Fajrul, tapi dari judulnya bisa kita tau, ini adalah tulisan sakit hati krn dia tdk lolos capres. Bagaimana mau jadi pemimpin kalau dia mengharap kepemimpinan yang dilimpahkan (diberi) dgn cara; pemimpin tua mundur diberikan kepada yg muda (tanpa proses demokrasi), bagaimana mau jadi presiden kalau dia sendiri menyerukan golput bersama gusdur dan orang-2 yg sakit hati karena tidak lolos dalam pencalonan. saran saya kepada media di Ind untuk tdk mempublikasikan karya-karya sakit hati sepert Fajrul ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: