Kontroversi Mobil Mewah untuk Pejabat

Di bawah adalah berbagai berita yang memuat kontroversi mobil mewah Toyota Crown senilai Rp 1,3 milyar untuk 150 pejabat. Laode Ida dan pimpinan KPK mengembalikannya. Lebih baik pakai Toyota Kijang saja, kata mereka mengingat masih banyak rakyat yang miskin.

Sementara Patrialis Akbar menganggap mobil itu lebih murah ketimbang dia minta uang transport Rp 10-15 juta per bulan. Seorang Kaskuser mempertanyakan uang sebesar itu yang bisa membeli Pertamax sebanyak 80 liter sehari atau kira2 800 km/sehari. Ini menteri apa pengukur jalan?

Sri Mulyani meski masih pakai mobil lama karena masih enak, tetap menolak mengembalikan mobil baru tersebut:

“Masih enak pakai yang ini [Camry], sementara,” kata Sri Mulyani di Istana Wakil Presiden, usai rapat tentang relokasi infrastruktur lumpur Sidoarjo, Jumat 8 Januari 2010.

Apakah mobil dinas itu akan dikembalikan? “Nggak,” jawab Sri Mulyani, pendek.

Ada pun Sudi Silalahi di Kompas disebut beberapa kali salah menyebut harga mobil mewah tersebut:

Dalam catatan, Sudi pernah meralat jumlah kendaraan dinas yang semula dikatakan 150 unit, tetapi diakui hanya 75 unit. Demikian juga yang semula seharga Rp 800 juta per unit diralat menjadi Rp 400 juta per unit.

Sekedar masukan dari saya, sebetulnya rakyat justru akan lebih hormat kepada para pejabat jika mereka hidup sederhana dan memakai mobil yang biasa saja.

Jika mereka pakai mobil mewah, rakyat bukannya kagum justru empet, sebel, dan marah. Karena saat mayoritas rakyat hidup miskin kok bukannya menolong rakyat malah foya-foya?

Terlepas dari siapa yang benar, marilah kita ingat bahwa di kiri kanan kita ada malaikat Roqib dan ‘Atid yang selalu mencatat setiap ucapan dan perbuatan kita. Selain itu ada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar yang mengetahui apakah kita berbohong atau tidak. Mari kita sadari itu.

Segala rumah dan mobil mewah itu saat kita mati tidak akan di bawa ke dalam kubur. Tapi justru akan jadi beban pertanyaan dari mana asalnya apakah halal atau tidak? Dan kemana dibelanjakan?

Mobil Dinas Langgar Aturan

Patrialis: Mana Lebih Baik, Mobil Baru Atau Uang Transpor?

Nograhany Widhi K – detikNews

Jakarta – Menkum HAM Patrialis Akbar menilai, kebijakan mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon menghemat uang negara. Jika dibandingkan dengan uang transpor hingga 5 tahun ke depan, penggunaan mobil itu menghemat beberapa ratus juta rupiah.

“Mana yang lebih baik? Saya minta uang transpor Rp 10-15 juta per bulan, maka saya akan dapat Rp 900 juta selama 5 tahun. Kalau pergantian transpor pribadi seperti itu uang negara hilang. Kalau seperti ini kan kemarin Rp 800 juta (harga mobil). Ya saya objektif saja,” ujar Patrialis di Kantor Presiden, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Senin (4/1/2010).

Mantan anggota DPR ini mengaku malu pada negara asing karena pengadaan mobil dinas itu dipersoalkan. “Harusnya kita lebih memikirkan nasionalisme bangsa kita. Kalau kita dulu melihat bendera dan mendengar lagu kebangsaan masih bisa menangis, coba lihat anak kita (sekarang),” imbuh dia.

Saat ditanya soal pengadaan mobil dinas yang melanggar aturan, Patrialis mengaku tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu, karena itu sudah disediakan oleh negara. Masa sudah disediakan nggak dipakai? Kalau nggak dipakai mubazir,” kata Patrialis.

Wakil Koordinator ICW Emerson Yuntho sebelumnya menyatakan, pengadaan mobil mewah untuk menteri dan pejabat tinggi negara itu melanggar Peraturan Menkeu No 64/PMK.02/2008 tentang standar biaya umum APBN 2009 tertanggal 29 April 2008.

Dalam peraturan Menkeu itu disebutkan, jumlah anggaran maksimal untuk pengadaan mobil pejabat negara Rp 400 juta per unit. ICW meminta pengadaan 79 unit Toyota Crown itu harus dibatalkan, karena ditengarai ada pemborosan puluhan miliar.

Menurut versi Mensesneg Sudi Silalahi, satu unit sedan Crown Royal Saloon Rp 800 juta. Sedangkan pajak yang dikenakan masuk kembali ke kas negara.

(nik/nrl)

http://www.detiknews.com/read/2010/01/04/165547/1271492/10/patrialis-mana-lebih-baik-mobil-baru-atau-uang-transpor

Sering ke Bengkel, Sudi Silalahi Anggap Mobil Lama Tidak Efektif Lagi

Senin, 28 Desember 2009 | 17:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi mengatakan pengantian dan pengadaan Toyota Crown Royal sebagai mobil dinas menteri dan pimpinan lembaga negara karena usia pakai kendaraan selama lima tahun itu sudah menunjukan ketidakefektifan.

“Saya merasakan seringkali ke bengkel apalagi kemarin kelasnya Camry,” kata Sudi di Istana Negara, Senin (28/12).

Menurut dia, penggantian mobil dinas itu tidak berlebihan. “Mobilnya juga bukan mobil mewah, Toyota juga. Pokoknya satu grade di atasnyalah,” katanya. “Crown itu sudah digunakan setingkat Pangdam, Kapolda zaman dulu bahkan bisa dilihat perbandingan yang dipakai di tingkat provinsi malah tampilannya jauh lebih bagus yang dipakai oleh menteri.”

Terkait harga mobil itu mencapai Rp 1,3 miliar, Sudi membantahnya. “Wah gak sampai, di bawah Rp 1 m,” bantahnya.

Penggunaan Crown, kata dia, Toyota itu paling banyak digunakan di tanah air, sehingga kalau rusak mudah di perbaiki di bengkel manapun. “Kan dulu pernah ada volvo, harganya mahal, sekali masuk bengkel harganya wah perbaikannya dan mahalnya,” katanya. “Sedangkan kalau Toyota suku cadangnya sudah banyak dan perawatannya mudah, berikutnya praktis.”

Sudi menuturkan pengadaan ini sesuai program jauh sebelum kabinet berakhir. “Karena dulu kita sama sekali tidak tidak tahu siapa yang bakal di kabinet. Kita yang kerja pada saat itu berkewajiban untuk persiapkan pada kabinet yang akan datang,” katanya. Dulu, kata Sudi, menterinya bukan dia. “Tapi ketika itu sudah dirancang dan dibawa ke DPR dan disetujui.” Karena sudah disetujui oleh DPR maka diproses dan terealisasi sekarang. Soal jumlah kemungkinan 150 unit. “Ya sekitar itu,” ujarnya.

Dia meminta hal ini tidak dibesar-besarkan. “Jangan dibesar-besarkan. Itu kan program,” katanya. Hal yang dipertentangkan lumrah. “Wajar kok mobil itu dan itu dipake untuk keperluan tugas, bukan untuk jalan-jalan tapi untuk bekerja,” kata Sudi.

EKO ARI WIBOWO

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/12/28/brk,20091228-216026,id.html

Sri Mulyani Masih Enak Pakai Mobil Lama

VIVAnews – Meski sudah mendapat mobil dinas baru, Toyota Crown Royal Saloon, Menteri Keuangan Sri Mulyani masih betah memakai jatah mobilnya yang lama.

“Masih enak pakai yang ini [Camry], sementara,” kata Sri Mulyani di Istana Wakil Presiden, usai rapat tentang relokasi infrastruktur lumpur Sidoarjo, Jumat 8 Januari 2010.

Apakah mobil dinas itu akan dikembalikan? “Nggak,” jawab Sri Mulyani, pendek.

http://nasional.vivanews.com/news/read/119663-sri_mulyani_masih_enak_pakai_mobil_lama

Emosional, Sudi Salah Ucap Harga Mobil Dinas

Laporan wartawan KOMPAS Suhartono

Kamis, 4 Februari 2010 | 17:18 WIB

Hindra Liu

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengaku sedikit emosional saat memberikan keterangan pers di Kantor Presiden Kompleks Istana Jakarta, Kamis (4/2/2010) sore, terkait aksi demo 28 Januari yang tidak sopan, pembelian pesawat kepresidenan, pembelian mobil dinas mewah, dan renovasi pagar istana.

Saking emosionalnya, Sudi beberapa kali salah mengucapkan angka harga sebuah mobil Toyota Crown Royal Saloon yang kini dipakai para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. “Saya memang agak emosional sehingga salah menyebutkan harga mobil dinas tersebut,” aku Sudi dalam keterangan pers didampingi Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha.

Semula Sudi menyebutkan harga satu Toyota Crown Royal Saloon yang satu tingkat di atas harga Toyota Camry Rp 432 juta per unit. Namun dalam pernyataannya kemudian, ia menyebut harga mobil itu Rp 437 juta per unit. Karena perbedaan angka itulah, pers menanyakan harga yang benar dari Toyota Royal Saloon itu.

Sudi kemudian bertanya kepada staf yang duduk di sebelah kanannya dalam jumpa pers itu dan dijawab bahwa harga yang benar adalah Rp 487 juta per unit. “Maaf saya agak emosional. Jadi keseleo lidah,” kata Sudi.

Sudi kemudian menyatakan bahwa ia agak sedikit jengkel karena seolah-olah pemerintah menyediakan barang yang cukup mahal. “Padahal tidak,” ungkapnya.

Selanjutnya, Sudi mengaku yang mahal dari pengadaan mobil dinas menteri adalah pajaknya. Namun, ia berkelit lagi bahwa tahap pembayaran pajak itu akhirnya masuk ke negara juga.

Dalam catatan, Sudi pernah meralat jumlah kendaraan dinas yang semula dikatakan 150 unit, tetapi diakui hanya 75 unit. Demikian juga yang semula seharga Rp 800 juta per unit diralat menjadi Rp 400 juta per unit.

http://nasional.kompas.com/read/2010/02/04/1718523/Emosional..Sudi.Salah.Ucap.Harga.Mobil.Dinas

Pilih Pakai Kijang, Laode Ida Kembalikan Crown

Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Senin, 4 Januari 2010 | 13:09 WIB

KOMPAS/PRIYOMBODO

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Laode Ida mengembalikan mobil dinas pejabat negara, Toyota Crown Royal Saloon, yang mulai digunakan para pejabat sejak pekan lalu. Laode mengatakan, pengembalian mobil itu dilakukannya atas kesadaran sendiri.

“Lebih baik uang untuk mobil itu digunakan untuk menyekolahkan anak-anak yang tidak mampu. Pejabat sudah ada tunjangan-tunjangan dan fasilitas lainnya. Sangat tidak logis anggaran digunakan secara konsumtif, memberi kenikmatan pada pejabat,” kata Laode kepada wartawan di Ruang Pimpinan DPD, Jakarta, Senin (4/1/2010).

http://nasional.kompas.com/read/2010/01/04/13091985/Pilih.Pakai.Kijang..Laode.Ida.Kembalikan.Crown

Istana Enggan Komentar KPK Tolak Mobil Baru

Rabu, 30 Desember 2009 – 08:06 wib

Anton Suhartono – Okezone

Mobil dinas Ketua DPR RI dengan nomor polisi RI 7 diparkir di halaman Gedung DPR. (Foto: MAria Ulfa/okezone)

JAKARTA – KPK kemarin menyatakan penolakannya terhadap mobil dinas baru Toyota Crown Royal Saloon dengan alasan terlalu mahal. Juru bicara Kepresidenan Julian Adrian Pasha enggan mengomentari hal tersebut.

Kemarin, Wakil Ketua KPK bidang pencegahan Haryono Umar, justru menyarankan agar mobil seharga Rp1,3 miliar tersebut diganti dengan mobil lain, seperti Toyota Innova.

Sejumlah pihak menilai pengadaan mobil dinas baru pejabat negara itu bertolak belakang dengan kondisi kemiskinan masyarakat Indonesia. Sekalipun diganti, sehatusnya tidak perlu memilih mobil yang dibanderol sekira Rp1 miliar itu.

http://news.okezone.com/read/2009/12/30/337/289300/istana-enggan-komentar-kpk-tolak-mobil-baru

2 Tanggapan

  1. mobil mewah, rumah lengkap dan free cost, gaji dan berbagai macam tunjangan, program kerja 4 D, penanganan masalah gak tuntas, upeti ngalir dari kanan kiri, penegakan hukum timpang. sungguh luar biasa kemampuan para profesor doktor pengelola negri ini, ikutan nguras negri sendiri. guoblok apa gak waras sih ?

  2. memang ga etis lah..di saat rakyat banyak yamh kelaparan, di saat masyarakat banyak berebut BLT, di saat rakyat banyak yang ketakutan makan apa besok,,pejabatnya malah begitu..ironis banget..apapun alasannya ga bisa di benarkan..
    jujr saya paling benci jika ada rombongan pejabat yang lewat dengan memberhentikan para pengendara lain..bukankah wakil kita, di bayar oleh kita gajinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: