Harta Kekayaan Anas Urbaningrum

Berikut berita dari Surabaya Post tentang tudingan Nazaruddin bahwa Anas Urbaningrum adalah “Perampok” APBN, harta kekayaan, dan juga sumber rezeki Anas.

Sebagai anggota KPU pada tahun 2001 dengan honor Rp 12,5 juta per bulan hingga tahun 2005, total honornya mencapai Rp 795 juta.  Sebagai anggota DPR dengan pendapatan Rp 742 juta/tahun, maka total kekayaan Anas hingga 2010 hanya mencapai sekitar Rp 1,5 miliar. Itu pun dengan asumsi, honor Anas tak berkurang sedikit pun.

Namun menurut Surabaya Post, sekarang harta kekayaan Anas bisa membengkak hingga lebih dari Rp 50 miliar – diduga bahkan mencapai ratusan miliar – maka, dari mana sumber lain rezeki Anas yang demikian deras itu?

Mengusik Kembali Sumber Rezeki Anas

Surabaya Post online, Rabu, 10/08/2011 | 11:29 WIB

M Nazaruddin telah ditangkap. Sehingga, peluang untuk membuktikan tudingannya bahwa Anas Urbaningrum adalah “perampok” APBN, jadi terbuka lebar. Nah, sebelum Nazar tiba di Tanah Air dan “berkoar”, mari kita hitung sejauh mana tudingannya itu mendekati kebenaran.

Ketika masih di alam buron, mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M Nazaruddin berteriak lantang, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum tidaklah “sebersih” dan “sesuci” penampilannya. Menurut Nazar, Ketua Umum PB HMI 1997-1999 itu juga terlibat dalam permainan kotor proyek pembangunan wisma atlet SEA Games yang dutuduhkan kepadanya.

Tak hanya itu. Nazar juga mengungkapkan, selama aktif menjadi politisi Partai Demokrat dan menduduki kursi wakil rakyat di Senayan, Anas telah bermain cantik mengeruk harta kekayaan negara untuk mengembungkan pundi-pundi uangnya. Modusnya, melalui mekanisme percaloan dalam proses pelaksanaan proyek-proyek pembangunan yang dibiayai APBN.

“Ini sekedar bahan renungan saja, kalau saya dikatakan memfitnah Anas, darimana Anas bisa memiliki beberapa rumah dengan harga puluhan miliar rupiah? Darimana Anas bisa memiliki mobil-mobil mewah seharga miliaran rupiah satu mobilnya? Apakah masyarakat berpikir uang itu hasil halal dari jerih payahnya? Sekali lagi saya hanya membuka fakta saja,” kata Nazaruddin melalui BlackBerry Masanger (BBM) yang dikutip secara luas oleh media massa di Tanah Air, beberapa waktu lalu.

Dalam tautan BBM-nya itu Nazar menambahkan, sekalipun menjabat sebagai ketua umum partai pemenang Pemilu 2009, Anas bukanlah pengusaha seperti Aburizal Bakrie (Ketua Umum Partai Golkar) atau Setya Novanto (Bendahara Umum Partai Golkar).

Nazar melanjutkan, dengan gajinya sebagai anggota DPR selama hanya satu tahun – oleh Partai Demokrat Anas dipasang sebagai anggota DPR pada tahun 2009 dan menduduki jabatan ketua fraksi, tapi dia mengundurkan diri pada tahun 2010 untuk mengikuti pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat – mustahil Anas bisa memiliki kekayaan itu semua. “Coba tanyakan sama Anas darimana dia mendapatkan uang untuk membeli semuanya itu (rumah puluhan miliar rupiah dan banyak mobil mewah?),” ujar Nazar.

Sebagaimana dilansir banyak media massa, cetak maupun elektronik, setelah mengundurkan diri dari keanggotaan KPU, Anas menyetorkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pada 10 Mei 2005. Saat itu nilai total harta kekayaannya tercatat sebesar Rp 1,17 miliar.

Setelah itu, Anas aktif di Partai Demokrat dan menjabat sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah di DPP untuk periode 2005-2010. Dua tahun kemudian atau persisnya 28 Desember 2007, alumnus S1 FISIP Unair itu kembali menyetorkan LHKPN ke KPK.

Kekayaan Anas, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Wakaf Paramadina (2006-sekarang) menggembung jadi Rp 2,23 miliar plus USD 2.300 (sekitar Rp 19,6 juta), nyaris dua kali lipat dari sebelumnya. Versi lain menyebutkan, total harta Anas mencapai Rp 2,4046 miliar

Kemudian, pada tahun 2009 Anas duduk sebagai wakil rakyat di Senayan dan menjabat sebagai ketua fraksi. Setahun setelah itu (2010), Anas mengundurkan diri dari kursi DPR untuk persiapan laga perebutan kursi Ketua Umum Partai Demokrat 2010-2015.

Jadi Rp 50 M Lebih

KPK mengatakan, Anas kembali menyetorkan LHKPN pada Februari 2010 tapi sampai sekarang belum ada kabar tentang hasil verifikasi kekayaan Anas. Sementara, sejumlah media massa, Juli lalu, menyebutkan, saat ini Anas ditengarai tengah membangun rumah senilai Rp 9 miliar dan memiliki sejumlah mobil mewah yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 6,89 miliar-Rp 8,89 miliar.

Di bagian lain, menurut berita yang dilansir VIVAnews.com, Rabu, 20 Juli 2011, Anas juga tercatat membeli 30 persen saham Nazar di PT Anugerah Nusantara pada 1 Maret 2007. Kemudian pada tahun 2008, dia membeli 35 ribu lembar saham PT Panahatan, yang total nilainya Rp 35 miliar (senilai Rp 1 juta per lembar saham).

Jika dihitung-hitung dari nilai rumah, mobil mewah dan saham itu saja, maka kekayaan Anas hingga Juli 2011 diperkirakan sudah menggembung jadi Rp 50,89 miliar- Rp 52,38 miliar. Dalam sejumlah pernyataannya kepada pers, Anas tak menyiratkan bantahan mengenai nilai akhir kekayaannya tersebut. Tapi dia tegas membantah tudingan Nazar bahwa semua itu diraihnya melalui “jalan kotor”.

Lantas, siapa yang mendekati kebenaran, Nazar atau Anas? Mari kita mencari tahu dengan menghitung-hitung rezeki arek Blitar berotak encer itu. Sebelum menjadi anggota KPU pada 2001, Anas bukanlah seorang pengusaha atau profesional di bidang apapun. Dia hanyalah aktivis sekaligus pimpinan pengurus besar ormas (HMI) dan penulis beberapa buku tentang politik – buku-bukunya pun tidak tercatat sebagai best seller. Kemudian setelah revolusi Reformasi 1998, Anas tercatat sebagai anggota Tim Revisi Undang-Undang Politik, atau Tim Tujuh.

Ada Sumber Lain

Dari kegiatannya itu, tidak diketahui, berapa penghasilan Anas. Baru setelah dia menjadi anggota KPU pada 2001, kekayaan Anas dapat diestimasi. Berdasarkan PP Nomor 62 Tahun 2003, seorang anggota KPU berhak atas honor sebesar Rp 12,5 juta per bulan.

Anas sendiri menjadi anggota KPU hingga tahun 2005, sehingga total honornya – diasumsikan tak berkurang sedikitpun – akan mencapai Rp 750 juta. Selain itu, berdasarkan Perpres Nomor 83 Tahun 2010, Anas juga berhak mendapat uang kehormatan sebesar Rp 45 juta. Sehingga, setelah “pensiun” dari KPU maka kekayaan Anas – bila dihitung dari honor dan uang kehormatan saja – mencapai Rp 795 juta.

Selama menjadi sebagai anggota KPU, Anas juga aktif mernulis sejumlah buku politik, tapi tidak diketahui, berapa pendapatannya sebagai penulis. Yang jelas, buku-buku karya Anas tidak ada yang tercatat sebagai best seller. Kemudian Anas terjun ke bidang politk praktis dengan bergabung ke Partai Demokrat pada tahun 2005 dan langsung menjabat sebagai salah satu ketua DPP.

Sampai saat itu, Anas masih aktif menulis sejumlah buku politik. Tapi lagi-lagi bukunya tak ada yang mencapai best seller dan pendapatannya dari menulis buku itu tak diketahui. Kemudian setelah Pemilu 2009, Anas menduduki kursi wakil rakyat di Senayan, lantas mengundurkan diri pada 2010.

Sejumlah pihak menghitung, jika cuma mengandalkan honor anggota DPR seperti Anas, maka kekayaan yang terkumpul selama setahun cuma mencapai Rp 692,2 juta-Rp 742 juta. Jika diestimasi, maka total kekayaan Anas hingga 2010 hanya mencapai sekitar Rp 1,5 miliar. Itu pun dengan asumsi, honor Anas tak berkurang sedikit pun.

Nah, jika sekarang harta kekayaan Anas bisa membengkak hingga lebih dari Rp 50 miliar – diduga bahkan mencapai ratusan miliar – maka, dari mana sumber lain rezeki Anas yang demikian deras itu? Apakah tudingan yang dilontarkan Nazar mengandung kebenaran? Wallahu a’lam. Atau kita tunggu saja kedatangan Nazar di Tanah Air, Minggu nanti (14/8) – kalau tak keburu “di-Munir-kan” di tengah perjalanannya pulang. ins

Curriculum Vitae Singkat Anas Urbaningrum

 Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat 2010-2015

 Anggota DPR RI dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Periode 2009-2014 (mengundurkan diri pada 2010)

 Pimpinan Kolektif Nasional KAHMI 2009 – sekarang

 Ketua Yayasan Wakaf Paramadina 2006 – sekarang

 Ketua DPP Partai Demokrat 2005-2010

 Anggota KPU 2001-2005

 Anggota Tim Seleksi Parpol Peserta Pemilu 1999 (Tim 11), 1999

 Anggota Tim Revisi UU Politik (Tim 7), 1998

 Ketua Umum PB HMI 1997-1999

Sumber: Wikipedia

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=8a5c1121fe24ecbeab48c97b07dec712&jenis=d645920e395fedad7bbbed0eca3fe2e0

6 Tanggapan

  1. Sy ngga bela Anas dan jga ngga benci Nazar, yg jelas Nazar itu ULAR…..

    • Dalam mimpi saya ketemu orang Inggris dan saya bertanya :Hai Mr, kalau anda bertemu dengan orang (sebangsa Nazarudin ) dan Ular (sebangsa kobra) siapa yang anda bunuh terlebih dahulu ?
      Jawabnya ( dengan pasti ) : Orangnya

  2. bingung….euih

  3. Wadoooh….,walaupun pinter jg menjadi menantu kyai ternyata sama aja,masih suka makan duit panas.kasian tu keturunannya di kasih makan api neraka sama bapaknya

  4. Si Nurani menyiratkan bahwa Anas yang Benar !!

  5. aktivis Munafik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: