Dahlan Iskan: Pencitraan Petasan Laksana Bom?

Sebelumnya buat simpatisan Dahlan Iskan dan pak Dahlan Iskan sendiri, jangan anggap ini kritik yang menjatuhkan. Karena di sini diberi juga solusi agar apa yang dilakukan benar-benar benar-benar bermanfaat bagi rakyat. Insya Allah ini kritik yang konstruktif.

Apa yang dilakukan Dahlan Iskan cukup mengundang sensasi di media massa. Ini juga menyebabkan masyarakat jadi simpati. Beberapa di antaranya adalah:

1. Dahlan Iskan naik KRL

2. Dahlan Iskan naik Ojek

3. Dahlan Iskan menginap di rumah warga miskin

4. Dahlan Iskan menggratiskan jalan tol untuk sekitar 100 mobil saat dia lewat dan minta Jasa Marga untuk membuka semua pintu tol agar tidak macet.

5. Dahlan Iskan ingin membuat mobil listrik

Semua itu baik. Yang jadi pertanyaan, adakah tindakan Dahlan Iskan itu hanya bermanfaat untuk sebagian besar rakyat Indonesia yang total jumlahnya 240 juta? Atau cuma bermanfaat untuk segelintir rakyat Indonesia saja? Kurang dari 100 orang yang merasakan hasilnya?

Nah beda “Pencitraan” dengan Prestasi nyata adalah jika hasil kerja tersebut efeknya cuma sementara dan terbatas dinikmati segelintir orang saja, itu namanya “Pencitraan”. Contoh Pencitraan ini adalah pembagian sembako dan baksos layanan kesehatan yang diadakan oleh beberapa partai politik dan LSM. Ini paling dilakukan cuma sebulan sekali. Padahal rakyat butuh itu setiap hari.

Ada pun prestasi nyata, itu jika perbaikan yang dilakukan itu bersifat mendasar dan sistematis. Bersifat Permanen dan dinikmati oleh orang banyak.

Contohnya saat Dahlan Iskan naik kereta api. Jika cuma naik KA tok tanpa membuat perbaikan seperti menambah gerbong dan lokomotif sehingga penumpang tidak berdesakan, itu namanya cuma pencitraan. Rakyat juga tiap hari kok naik kereta api. Tapi jika bisa membuat perbaikan, nah itu baru prestasi nyata. Para pemimpin Indonesia harusnya bisa membuat perbaikan.

Begitu pula saat naik ojek. Akan bermanfaat sekali jika Dahlan bisa membuat angkutan yang lebih murah dan aman ketimbang naik motor. Misalnya “Bajaj” listrik seharga Rp 30 juta yang hemat enerji yang sanggup memuat 3 orang sekaligus.

Begitu pula mengenai jalan tol. Agar tidak bikin macet, harusnya pintu pembayaran jalan tol dibuat di pintu keluar. Bukan di pintu masuk. Sekarang maaf saja, jalan tol kembali seperti sedia kala. Tetap macet. Ini karena yang dilakukan Dahlan itu bukan perbaikan yang fundamental dan permanen. Cuma teguran belaka tanpa ada follow-upnya.

Dalam hal listrik pun juga begitu. Sebelum Dahlan Iskan jadi Dirut PLN, paling saya bayar listrik rp 170 ribu/bulan. Sekarang Rp 340 ribu. Padahal Dahlan masih jadi Meneg BUMN yg membawahi PLN. Ternyata harga listrik PLN amat mahal: Rp 3000/kwh sementara Malaysia cuma Rp 810/kwh (Detik.com). Jadi Dahlan Iskan belum bisa membuat PLN jadi efisien seperti di Malaysia. Padahal jika Dahlan bisa membuat tarif listrik PLN Rp 1000/kwh saja, meski tetap lebih tinggi daripada Malaysia, namun pengeluaran rakyat seperti saya jadi lebih hemat. Aturan bayar Rp 340 ribu, paling nanti cuma bayar Rp 115 ribu saja per bulan. Jadi saya dan rakyat lainnya tidak hidup kekurangan akibat membayar tarif PLN yang amat mahal. Nah jika Dahlan bisa seperti itu, baru namanya dia betul-betul pemimpin sejati. Jika tidak, maaf, dia cuma pembuat sensasi yang sebetulnya tidak punya kemampuan cukup untuk mensejahterakan rakyatnya. Sebagai Meneg BUMN, Dahlan seharusnya bisa membuat BUMN seperti PLN jadi efisien sehingga tidak memberatkan rakyat.

Dahlan Iskan harus bertanya ke “PLN” Malaysia kenapa tarif listrik mereka bisa lebih murah daripada Indonesia. Padahal gaji karyawan di sana 4 x lipat daripada di Indonesia. Jika itu karena mereka memakai PLTA seperti PLTA Jatiluhur, Cirata, dsb, maka PLN pun harus membangun PLTA.

Pemakaian Voucher Listrik oleh PLN merupakan tanda negara melepas tanggung-jawabnya dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Artinya jika rakyatnya tidak punya uang, maka mereka tidak bisa mendapatkan listrik. Ini adalah paham Neoliberalis/Kapitalis yang tidak sesuai dgn Sistem Pancasila dan Sistem Islam.

Jika itu karena mereka membeli BBM dari Petronas dengan harga hanya US$ 15/barel, sekedar US$ 5 di atas biaya produksi, maka PLN beserta pemerintah harus berusaha menasionalisasi perusahaan minyak asing di Indonesia. Karena perusahaan minyak asing seperti Exxon, Chevron, dsb, memaksa rakyat Indonesia termasuk PLN membeli minyak Indonesia dengan harga New York/NYMEX dengan harga US$ 100/barel lebih!

Kalau kita pasang listrik baru, dari PLN pasti bilang yg 450 dan 900 watt sudah habis. Aneh memang tapi itu alasannya. Kemudian masyarakat ditawarkan tambah daya gratis ke 1300 watt, dst:

http://infoindonesia.wordpress.com/2011/07/22/gerakan-hemat-energi-tambah-daya-gratis-pln-kebohongan-publik/

Anehnya PLN sering menghimbau masyarakat untuk hemat listrik dengan iklan-iklan di TV. Tapi PLN juga menawarkan tambah daya listrik gratis yang sama dengan menganjurkan rakyat untuk jadi boros. Aneh kan?

Jadi Dahlan Iskan selaku meneg BUMN dan sebelumnya jadi Dirut PLN harus benar-benar serius kalau ingin melayani rakyat.

Sebagai Meneg BUMN yang membawahi Pertamina dan Elnusa, Dahlan Iskan bisa mengerahkan BUMN2 tersebut untuk mengeksplorasi dan mengelola ladang-ladang migas baru di Indonesia.

Sebagai Meneg BUMN, alangkah baiknya Dahlan Iskan memberdayakan BUMN2 di Indonesia sehingga ladang migas yang saat ini 90% lebih dikuasai perusahaan2 asing bisa dikuasai BUMN2 Indonesia seperti Pertamina dan Elnusa. Begitu pula Tambang emas, perak, dan tembaga yang mayoritas dikuasai Freeport, Newmont, dsb bisa dikuasai BUMN ANTAM. Jika perlu Dahlan membentuk BUMN-BUMN baru agar di tiap bidang bisa ditangani 3 BUMN yang saling bersaing.

Ada pun untuk mobil listrik, itu bagus. Tetap harus dibuat karena masa depan ke arah itu.

Namun saat ini rakyat kita belum siap. Jadi selain mobil listrik, Dahlan Iskan harus berusaha membuat sepeda motor yang dirubah jadi mobil sebagaimana UPV sehingga selain irit (1 liter: 40 km) juga harganya murah (Rp 30 juta saja). Jika Dahlan bisa melakukan ini, maka dia adalah calon presiden Indonesia sejati. Jika tidak, berarti tidak beda jauh dengan Aburizal Bakrie atau Suryo Paloh.

Tapi mobil listrik Dahlan Iskan yang harganya Rp 300 juta sangat mahal dan tidak terjangkau oleh rakyat kebanyakan. Mobil Avanza saja saat itu diumumkan harganya cuma Rp 115 juta. Belum lagi harga baterainya yang Rp 50 juta yang dalam 5 tahun harus diganti. Artinya sebulan untuk baterai saja sudah habis Rp 400 ribu lebih. Belum biaya listrik. Jadi secara bisnis tidak layak dan sulit laku:

Harga Rp 300 juta, mobil listrik Dahlan tidak akan laku

http://www.merdeka.com/uang/harga-rp-300-juta-mobil-listrik-dahlan-tidak-akan-laku.html

Harusnya Dahlan Iskan memakai mobil Marlip yang harganya cuma Rp 80 juta dan sudah jalan serta dijual di Indonesia. Ini lebih murah dan lebih layak secara bisnis.

Dahlan Iskan menginap di rumah warga miskin bagus. Dia bisa merasakan kemiskinan mereka. Dahlan mungkin memberi santunan pada warga miskin tempat dia menginap. Tapi apa hanya itu? Bagaimana dengan 100 juta warga miskin lainnya?

Ada baiknya selain memberi umpan, Dahlan juga memberi kail. Dahlan harus bertanya dan mengetahui sebabnya kenapa mereka miskin? Kemudian berusaha mensejahterakan sebanyak mungkin orang miskin melalui jabatan yang dia pegang. Saat ini dia membawahi berbagai BUMN. Ada beberapa bank BUMN seperti Mandiri, BRI, BNI, Bukopon, BTN, dsb yang menyimpan dana ribuan trilyun rupiah. Ada banyak perusahaan tambang seperti Pertamina, Elnusa, ANTAM, dsb yang harusnya bisa mengelola kekayaan alam Indonesia sehingga hasilnya bisa dinikmati sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Ada perusahaan seperti PLN yang menguasai hajat hidup orang banyak yang jika bisa dibuat efisien dan murah, ini bisa meringankan beban lebih dari 100 juta rakyat Indonesia.

Belum lagi Dahlan Iskan berulangkali mendukung kenaikan harga BBM. Ini bisa menyengsarakan rakyat:

Dahlan Iskan: Pemerintah Tak Boleh Mundur, BBM Harus Naik

http://finance.detik.com/read/2012/03/27/150711/1877766/4/dahlan-iskan-pemerintah-tak-boleh-mundur-bbm-harus-naik

https://capresindonesia.wordpress.com/2012/03/28/dahlan-iskan-dukung-kenaikan-harga-bbm/

Nah banyak peluang amal saleh/jariyah di situ untuk membuktikan bahwa Dahlan adalah seorang pemimpin sejati. Bukan sekedar pencari sensasi.

Jumat, 20/04/2012 11:46 WIB

Listrik Malaysia Rp 810/Kwh, Listrik PLN Rp 3.000/Kwh

Rista Rama Dhany – detikFinance

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Mulai 2015, PT PLN (Persero) berencana untuk mengimpor listrik dari Malaysia untuk kebutuhan pelanggan PLN di Kalimantan. Ternyata listrik asal Malaysia jauh lebih murah.

Direktur Perencanaan dan Manajemen Risiko PLN, Murtaqi Syamsuddin mengatakan listrik yang bakal dibeli PLN dari Malaysia jauh lebih murah. Listrik Malaysia harganya 9 sen (Rp 810) per Kwh.

PLN berencana untuk membeli listrik dari Malaysia selama 5 tahun pada kontrak awalnya. Pembelian listrik dari Malaysia ini dilakukan untuk kebutuhan pelanggan di Kalimantan dan bisa memperkuat cadangan listrik PLN.

“Pembelian listrik juga berguna untuk memperkuat cadangan kami, sehingga pada saat peak bisa sangat membantu. kalau bisa hari ini beli, harganya mungkin sekitar 9 sen per kwh sementara kalau kita produksi saat ini Rp 3.000 per kwh, jauh perbedaannya,” jelas Murtaqi di kantor Ditjen Listrik, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (20/4/2012).

Sebelumnya, Dirjen Listrik Kementerian ESDM Djarman menjelaskan saat ini kebutuhan listrik di daerah perbatasan cukup besar. Jadi PLN boleh mengimpor listrik asalkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2012 soal jual-beli listrik.

Rencananya PLN akan mulai mengimpor listrik dari Malaysia pada 2015. Saat ini jaringan untuk mengimpor listrik dari Sarawak sedang disiapkan.

PLN mengimpor listrik dari Sarawak karena selain lokasi dekat, harga listrik dari daerah tersebut juga lebih murah. Pemerintah yakin, bila proses pembelian ini terealisasi, bisa menghemat biaya operasional.

“Harganya lebih murah. Di daerah Kalimantan dan perbatasan sekitarnya yang dekat Malaysia butuh suplai listrik karena rata-rata masih menggunakan BBM fosil,” ujar Jarman.

Jarman menambahkan, saat ini pasca terbitnya PP Nomor 42/2012, baru daerah Kalimantan Barat yang melakukan proses pembelian listrik. Namun, pemerintah masih tetap mengupayakan daerah perbatasan lain bila kekurangan pasokan listrik.

(rrd/dnl)

http://finance.detik.com/read/2012/04/20/114603/1897194/1034/listrik-malaysia-rp-810-kwh-listrik-pln-rp-3000-kwh

Dahlan Iskan: Kalau Jadi Presiden, Biar Tuhan Yang Putuskan

Rista Rama Dhany – detikFinance

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengungkapkan sampai saat ini dirinya hanya fokus bekerja sebagai Menteri BUMN. Apakah dirinya berniat jadi capres di 2014?

Dalam acara Ernst and Young Enterprenur, Dahlan ditanya, setelah menjadi pengusaha, Dirut PLN, dan menteri, apa yang akan dilakukan oleh Dahlan?

Sontak pertanyaan yang dilontarkan oleh moderatir acara kepada Dahlan disambut teriakan para undangan yang hadir: “Presiden!” Teriakan ini ramai diucapkan berulang kali pada acara yang dilakukan di Hotel Four Seasons, Jakarta, Jumat (11/5/2012).

Menanggapi hal ini, Dahlan hanya santai saja menanggapinya. Dia hanya menjawab, dirinya tidak punya partai politik, tidak punya posisi di partai sebagai kendaraan politik.

“Jadi kalau jadi presiden, biar Tuhan yang putuskan,” tukas Dahlan.

(rrd/dnl)

http://finance.detik.com/read/2012/05/11/230414/1915437/4/dahlan-iskan-kalau-jadi-presiden-biar-tuhan-yang-putuskan

Tarif listrik di AS rata2 cuma 10 sen/KWH (Rp 950/kwh). Jah lebih murah daripada Indonesia yg mencapai Rp 3000/kwh.

Ketimbang menaikan tarif listrik yang sudah mahal 15%, mending Dahlan Iskan dan anggota DPR memperjuangkan agar PLN bisa lebih efisien.

Jika perlu tim KPK dan juga ahli perlistrikan diterjunkan ke PLN agar trilyunan rupiah uang negara bisa diselamatkan dan rakyat tidak menderita

In 2011, the average retail price of electricity in the United States was 10.0 cents per kilowatt-hour (kWh). The average prices by type of utility customer were:

Residential: 11.8¢ per kWh
Transportation: 10.6¢ per kWh
Commercial: 10.3¢ per kWh
Industrial: 6.9¢ per kWh

http://www.eia.gov/energyexplained/index.cfm?page=electricity_factors_affecting_prices

Komentar seorang yg tinggal di AS:
Irsal: Kebetulan baru dapat tagihan listrik. Total pemakaian listrik 1765 kWh dan kena charge $187.10. Jadi kira-kira per kWhnya $0.10 sampai $0.11, atau dalam rupiah sekitar Rp 1000. Wah ternyata amerikapun masih lebih murah dari Indonesia:).

3 Tanggapan

  1. hadeeeuuuuh ternyataaa…..

  2. kenapa prestasinya mengentaskan perusahaan2 BUMN dari jurang kerugian gak ada ya…?? ini bener2 antek jongkowi…. aku muntah denger jongkowi berprestasi… huueexxxx… kota solo selama periode th 2010-2012 menjadi kota terbanyak prosentasenya angka kemiskinannya se Jateng….. hebaattttt…..

  3. Permisi , siapa-pun yg jadi Indonesia-1 , tetap menghadapi perangkap k apitalisme yang MENINDAS , apa saja ? , a) perangkap utang lewat strategi anggaran yg di-defisit-kan , disertai dg riba/rente yg mencekik b) perangkap riba melalui sistem uang fiat , rente dan kredit c) perangkap penguasaan pasar yg monopoli . Ketiga poin ini terang benderang berlangsung di depan kita. Itulah sebabnya krisis demi krisis tidak berhenti. Pemimpin yg membiarkan perangkap kapitalisme ini adalah PEMIMPIN yg ikut dalam MENINDAS DAN MENZALIMI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: